Neocloris Aquatica

Blog ini bertujuan untuk memberikan informasi data kepada taruna ataupun masyarakat luas untuk pembangunan kelautan perikanan indonesia yang lebih maju

Kamis, 06 Juni 2013

makalah psikologi masyarakat pesisir



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Nelayan mempunyai peran yang sangat substantial memodernisasi kehidupan manusia. Mereka termasuk agent of development yang paling reaktif terhadap perubahan lingkungan. Sifatnya yang lebih terbuka dibanding kelompok masyarakat yang hidup di pedalaman, menjadi stimulator untuk menerima perkembangan peradaban yang lebih modern.
            Dalam konteks yang demikian timbul stereotif yang positif tentang identitas nelayan khususnya dan masyarakat pesisir pada umumnya. Mereka dinilai lebih  berpendidikan, wawasannya tentang kehidupan jauh lebih luas, lebih tahan terhadap cobaan hidup  dan toleran terhadap perbedaan. Ombak besar dan terpan angin laut yang ganas memberikan pengaruh terhadap mentalitas mereka. Di masa lalu, ketika teknoologi komunikasi belum mencapai kemajuan seperti sekarang, perubahan-perubahan besar yang terjadi pada masyarakat pedesaan (daratan) ditentukan oleh intensitas komunikasi yang berhasil diwujudkan masyarakat pedesaan dengan para nelayan.

1.2  Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan laporan praktikum ini adalah :
-      Untuk mengetahui pengaruh masyarakat nelayan terhadap lingkungan
-      Untuk mengetahui perekonomian nelayan dan pengaruhnya terhadap    lingkungan
-      Untuk mengetahui masalah yang dihadapi para nelayan terhadap teknologi yang berkembang pada saat ini.

                     





































BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


Dalam perkembangan masyarakat nelayan belum menunjukan kemajuan dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Keberadaan mereka sebagai agen perubahan sosial ternyata tidak ditunjukan secar positif dengan kehuidupan ekoniminya. Persoalan sosial paling dominan yang dihadapi diwilayah pesisir justru masalah kemiskinan nelayan. Meski data akurat mengenai jumlah penduduk miskin diwilayah ini belum tersedia, data dari hasil-hasil penelitian yang ada menunjukan adanya incidence poverty di beberapa pesisir.
Hasil studi COREMAP tahun 1997/1998 di 10 propinsi di Indonesia menunjukkan rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan berkisar antara  Rp 82.500 perbulan sampai Rp 225.000 per bulan. Kalau dikonversi kepadatan per kapita, angka tersebut rata-rata setara dengan Rp 20.625 sampai Rp 56.250 per kapita perbulan (Anon, 2002). Angka tersebut masih dibawah upah minimum regional yang ditetapkan pemerintah pada tahun yang sama. Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat ada keterkaitan erat antara kemiskinan dan pengelolaan wilayah pesisir.
Tekanan terhadap sumber daya pesisir sering diperberat oleh tingginya angka kemiskinan diwailayah tersebut. Kemiskinan sering pula merjadi lingkaran karena penduduk yang miskin sering menjadi sebab rusaknya lingkungan pesisir, namun penduduk miskin pula yang akan menanggung dampak dari kerusakan lingkungan. Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan jika praktik perikanan yang merusak masih sering terjadi diwilayah pesisir.

2.1  Faktor penyabab
Masalah kemiskinan kembali mencuat sebagai persoalan serius yang harus segera ditangani pemerintah ketika krisis ekonomi melanda perekonomian nasional mulai akhir tahun  1990. krisis yang hampir membangkrutkan bangsa dan negara indonesia telah mening katkan jumlah penduduk miskin kembali ketahun 1990.
Meningkatnya jumlah tenaga kerja Indonesia ilegal yang mencari pekerjaan dinegar jiran Malaysia adalah bukti konkret akan rendahnya harapan bagi masyarakat pedesaan, terutama yang kurang berpendidikan untuk menggantungkan kehidupannya denagn mengadu nasib sebagai masyarakat urban dan suburban di Indonesia.
Secara garis besar ada dua cara memandang kemiskinan. Sebagian orang berpendapat, kemiskinan adalah suatu proses, sebagian lagi memandang kemiskinan sebagai suatu akibat atau fenomena dalam masyarakat. Sebagai suatu proses, kemiskinan mencerminkan kegagalan suatu sistem masyarakat dalam mengalokasikan sumberdaya dan dana secara adil kepada masyarakat (Pak Pahan dan Hermanto, 1990). Dari hasil kajian mereka di 14 Kecamatan daerah pantai yang tersebar di beberapa provinsi diketahui, nelayan yang umumnya belum banyak tersentuh teknologi modern, kualitas sumberdaya manusia rendah dan tingkat produktivitas hasil tangkapnya juga sangat rendah.
Faktor utama bukan karena kekuatan modal untuk mengakses teknologi, namun ternyata lebih banyak disebabkan oleh kurangnya aktivitas penyuluhan atau teknologi dan rendahnya lembaga penyedia teknologi.
Yang menarik dari hasil penelitian mereka adalah ditemukannya korelasi positif antara tingkat kemiskinan dengan perkembangan sistem ijon. Para nelayan umumnya, kehudupan mereka sangat tergantung kepada para pemilik modal, yaitu pemilik perahu atau alat tangkap serta juragan yang siap menyediakan keperluan perahu untuk berlayar.
Indikator ini memang tidak selalu sama disetiap daerah karena sepertidi pekalongan, banyak juragan kapal yang mengeluh dengan sikap anak buah kapal (nelayan) yang cenderung terlalu banyak menuntut sehingga keuntungan juragan kapal menjadi terbatas. Namun secara umum terbatasnya kemampuan dalam mengembangkan kemampuan ekonominya karena nelayan seperti ini  telah terjerat oleh utang yang dipinjam dari para juragan. Mereka biasanya membayar utang tersebut dengan ikan hasil tangkapannya yang harganya ditentukan menurut selera para juragan. Bisa dibayangkan ap yang akan diterima para nelayan dengan sistem yang demikian, sehingga sangatlah wajar jika kemiskinan menjadi bagian yang akrab dalam kehidupan mereka.
2.2  Kelebihan
Adahal yang berbeda ketika kita berbicara tenteng ekonomi nelayan dan ekonomi petani sebagai contoh  di jawa tengah dikalangan petani, pemasaran hasil second generation problem yang sulit sekali di carikan pemecahannya. Sedangkan dikalangan jawa tengah, pemasaran bukan lah persoalan serius yang membuat mereka jatuh miskin.
Dipropinsi jawa tengah terdapat tempat pelelangan ikan (TPI) yang menjadi sarana transaksi hasil-hasil ikan laut. Dalam proses transaksi di TPI, nelayan berhadapan dengan banyak pembeli sehingga nelayan yang menjual ikannya di TPI umumnya akan mendapatkan harga yang paling menarik jika dibandingkan dengan mereka yang menjual dilaut lepas atau diluar TPI.
TPI jawa tengah yang dikelola oleh koperasi unit Desa yang tergabung dalam puskud mina baruna saat ini terbilang sebagai TPI paling solid dan terbaik di indonesia. Sayangnya, tidak semua transaksi dilakukan secara kontan, terkadang di beberapa TPI banyak nelayan yang harus menunggu pembayaran dua sampai tiga hari  karena tidak semua pembeli membawa uang yang cukup. haal inilah yang mendorong para nelayan, yang memerlukan uang kontan segera dan tidak sabar, menjual hasilnya diluar TPI. Akibatnya harga ikan yang mereka jual jauh dibawah harga TPI dan seringkali hanya untuk menutup biaya operasi menangkap ikan dilaut lepas.
Kondisi ini sering kali menimpa nelayan-nelayan kecil yang membutuhkan dana segar sesegera mungkin untuk menutup kehidupan ekonomi mereka. Pemerinteh tampaknya perlu mendorong sektor perbankan untuk membuka kantor kasnya disetiap TPI yang mengatasi kesulitan para bakul untuk menutup tagihannya. Termasuk fungsi perbankan disini adalah menyediakan dana yang idperlukan nelayan untuk berlayar. Sayangnya dengan kondisi kehidupan nelayan yang paspasan, tampaknya sangat sulit bagi perbankan untuk menjalankan fungsi tersebut tanpa adanya agunan yang memadai dari para nelayan. Disini bila dimungkinkan pemerintah bisa menyediakan dana khusus sebagai jaminan kepada perbankan untuk menyalurkan dananya kepada nelayan. Walaupun perbankan tidak memenuhi peran tersebut, pemerintah bisa menempatkan dananya sebagai penyertaan modal kepada KUD-KUD pengelola TPI.  
                          
                                               














BAB III
PELAKSANAAN

3.1   Waktu dan Tempat
Pelaksanaan Dalam mengambilan data pembuatan laporan praktikum Psikologi sosial ini yang berjudul “pengaruh sulitnya ekonomi para nelayan berdampak pada lingkungan dan kurangnya menggunakan teknologi“ dilakukan selama 3 hari dimulai pada tanggal 1 Mei 2006 sampai 3 Mei 2006 di Propinsi Banten Kabupaten Serang Desa Karangantu.

3.2   Metodologi
Metode yang dilakukan dilapangan ialah berinteraksi dengan cara tanya jawab kepada nelayan mengenai permasalahan yang dihadapi sesuai dengan judul laporan praktikum yang dibuat.
Adapun nama-nama responden yang membantu dalam memberikan informasi dalam pembuatan laporan praktikum ini diantaranya yaitu:
1     Nama                            : Bapak Harun
Umur                             : 65 th
Pekerjaan                     : Nelayan
Jenis kelamin              : laki-laki
Alamat                          : Kp Bugis
Jumlah keluarga         : Empat orang (4)
2     Nama                            : Ibu Solah
Umur                             : 32 th
Pekerjaan                     : Pengecer ikan
Jenis kelamin              : Wanita
Alamat                           : Kp Bugis
Jumlah keluarga         : Enam (6)

3     Nama                            : Bapak yunus
Umur                             : 28 th
Pekerjaan                     : Nelayan
Jenis kelamin              : Laki-laki
Jumlah keluarga         : Tiga (3)

4     Nama                            : Andi amin
Umur                             : 44 th
Pekerjaan                     : Nelayan
Jenis kelamin              : Laki-laki
Jumlah keluarga         : Enam (6)

5     Nama                            : Naimah
Umur                             : 28 th
Pekerjaan                     : Pedagang
Jenis kelamin              : Wanita
Asal                               : Sulawesi selatan
Jumlah keluarga         : Tiga (3)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

            Adapun hasil interaksi dari beberapa responden mengenai permasalahan yang dihadapi para nelayan yaitu dimana pengaruh sulit nya ekonomi para nelayan dan berdampak pada lingkungan disebabkan karena tingkat  pendidikan orang-orang pesisir sangat rendah yaitu kebanyakan orang pesisir tingkat pendidikannya sampai mencapai tingkat SMP dimana orang-orang pesisir mereka memilih bekerja meneruskan orang tuanya sebagai nelayan dibandingkan dengan meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih atas. Akhirnya kemiskinan yang terjadi secara turun-menurun, apalagi pengaruh naiknya BBM pengaruhnya sangat besar bagi kehidupan nelayan, dimana mereka harus meningkatkan pendapatannya agar menutupi kebutuhan hidup dan kebutuhan operasionalnya, juga kebanyakan para nelayan tidak mau menggunakan alat-alat penangkapan modern dikarnakan biaya yang mahal juga kurangnya aktivitas penyuluh pada para nelayan sehingga nelayan tidak tahu akan kegunaan alat-alat modern. Tetapi bukan karena nelayan tidak mau menggunakan teknologi modern namun nelayan Desa Karangantu merasa dirugikan oleh KUD yang ada disana yaitu kasusnya adalah suatu hari ada pencairan dana dari pemerintah untuk para nelayan, tetapi oleh para pekerja KUD dana itu digunakan untuk kebutuhan mereka sehingga para nelayan tidak mau ber urusan dengan para KUD setempat. 
Juga dampak pada lingkungan akibat perekonomian nelayan rendah yaitu mereka memilih usaha mencari terumbu karang dibandingkan dengan mencari ikan dilaut, karena menjual terumbu karang sangat besar keuntungannya dibanding mencari ikan dilaut oleh karena itu banyak terumbu karang yang hancur akibat pengeboman yang merajalela dan akhirnya terumbu karang banyak yang rusak akibat pengeboman.
 Oleh karena itu perekonomian nelayan yang rendah sering pula menjadi lingkaran rusaknya lingkungan. Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan jika praktik perikanan yang merusak masih sering terjadi diwilayah pesisir.














BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN 
            Bahwa pengaruh sulitnya ekonomi para nelayan berdampak pada lingkungan dan kurangnya penggunaan teknologi akan mengakibatkan banyaknya kemiskinan diwilayah pesisir di Desa Karangantu akan berkepanjangan, juga hancurnya lingkungan akibat minimnya ekonomi yang didapat dari melaut. Juga kurangnya menggunakan teknologi modern para nelayan tidak akan bisa meningkatkan penghasilan dalam melaut. Untuk itu pendidikan yang lebih tinggi sangatlah penting untuk meningkatkan perekonomian para nelayan. Olehkarena itu pemerintah harus cepat menangani permasalahan yang terjadi yang dialami oleh para nelayan pesisir yang berada di Desa Karangantu. Sehingga para nelayan bisa meningkatkan perekonomian yang lebih baik, juga untuk mengurangi kemiskinan yang terjadi didaerah pesisir.

        SARAN
Pemerintah harus cepat-cepat mengatasi permasalahan ini agar masyarakat nelayan Karangantu mendapatkan dana bantuan yang selayaknya sehingga masyarakat nelayan pesisir Karangantu  bisa melakukan aktifitasnya dengan baik disamping itu pemerintah membantu perekonomian nelayan Karangantu.


PEMBENIHAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp.) DI UNIT BALAI LAYANAN USAHA PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA (BLUPPB) CILEBAR KABUPATEN KARAWANG, JAWA BARAT1)



SEMINAR HASIL PRAKTEK LAPANGAN
JURUSAN PENYULUHAN PERIKANAN
SEKOLAH TINGGI PERIKANAN

PEMBENIHAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp.)
DI UNIT BALAI LAYANAN USAHA PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA (BLUPPB) CILEBAR
KABUPATEN KARAWANG, JAWA BARAT1)

Oleh              : Fajar Muhammad Nur2)
Pembimbing  : 1. Ir. H. Widodo Dwi Suharyanto
2. Yenni Nuraini,S.Pi., M.Sc
 


                                                                                                              I.    PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sedang meluas dibudidayakan oleh masyarakat terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasarannya relatif mudah dan modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Keunggulan dari lele sangkuriang ini diantaranya yaitu dapat dipijahkan sepanjang tahun, fekunditas telur yang tinggi, dapat hidup pada kondisi air yang marjinal dan efisiensi pada pakan yang tinggi.
Unit BLUPPB Cilebar, Kab. Karawang, Jawa Barat sebagai salah satu instansi milik pemerintah yang bergerak dibidang budidaya perikanan, memiliki sarana yang mampu menunjang kegiatan budidaya perikanan, salah satunya dalam membudidayakan strain baru dari lele dumbo yaitu lele sangkuriang. Hal tersebut menjadi alasan penyusun untuk mengambil judul pembenihan lele sangkuriang dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan I di  Unit BLUPBB Cilebar, Kab. Karawang, Jawa Barat.
1.2. Tujuan
Tujuan Praktek Kerja Lapangan (PKL) I di Unit BLUPPB CIlebar, Kab. Karawang, Jawa Barat adalah sebagai berikut:
1.   Mempelajari teknik pembenihan lele sangkuriang.
2.   Mengetahui permasalahan yang kemungkinan muncul pada pembenihan lele sangkuriang dan mengetahui solusinya.

                                                                                                       II.    TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sistematika
2.1.1. Klasifikasi Lele Sangkuriang
Lukito (2002) menyatakan bahwa lele sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetika lele dumbo melalui silang balik (backcross).  Sehingga klasifikasinya sama dengan lele dumbo yakni:
Phyllum             : Chordata
Kelas                  : Pisces
Subkelas           : Teleostei
Ordo                   : Ostariophysi
Subordo             : Siluroidea
Famili                 : Clariidae
Genus                : Clarias
Spesies              : Clarias sp.
2.1.2. Proses Perbaikan Genetik
Lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik (back cross) antara induk betina generasi kedua F2 dengan induk jantan generasi keenam F6. Kemudian menghasilkan jantan dan betina F2-6. Jantan  F2-6 selanjutnya dikawinkan dengan betina generasi kedua F2 sehingga menghasilkan lele sangkuriang.
Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi dari Afrika ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi (Anonimus, 2007).
2.2. Ciri-ciri Morfologi
Menurut Anonimus (2005) secara umum morfologi ikan lele sangkuriang tidak memiliki banyak perbedaan dengan lele dumbo yang selama ini banyak dibudidayakan.  Hal tersebut dikarenakan lele sangkuriang sendiri merupakan hasil silang dari induk lele dumbo.
 

1) Judul Makalah Seminar Proposal Praktek Kerja Lapangan 1
2) Taruna Jurusan Penyuluhan Perikanan Sekolah Tinggi Perikanan di bawah bimbingan: Ir. H. Widodo Dwi Suharyanto sebagai pembimbing I dan Yenni Nuraini,S.Pi., M.Sc sebagai pembimbing II.
Tubuh ikan lele sangkuriang mempunyai bentuk tubuh memanjang, berkulit licin, berlendir, dan tidak bersisik.  Bentuk kepala menggepeng (depress), dengan mulut yang relatif lebar, mempunyai empat pasang sungut. Lele Sangkuriang memiliki tiga sirip tunggal, yakni sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur.  Sementara itu, sirip yang yang berpasangan ada dua yakni sirip dada dan sirip perut. Pada sirip dada (pina thoracalis) dijumpai sepasang patil atau duri keras yang dapat digunakan untuk mempertahankan diri dan kadang-kadang dapat dipakai untuk berjalan dipermukaan tanah atau pematang. Pada bagian atas ruangan rongga insang terdapat alat pernapasan tambahan (organ arborescent), bentuknya seperti batang pohon yang penuh dengan kapiler-kapiler darah.
2.3. Habitat
Lele sangkuriang dapat hidup di lingkungan yang kualitas airnya sangat jelek.  Kualitas air yang baik untuk pertumbuhan yaitu kandungan O2 6 ppm,  CO2 kurang dari 12 ppm,  suhu 24 – 26 o C,  pH 6 – 7,  NH3 kurang  dari 1 ppm dan daya tembus matahari ke dalam air maksimum 30 cm (Lukito, 2002). 
2.4. Tingkah Laku
Ikan lele dikenal aktif pada malam hari (nokturnal). Pada siang hari, ikan lele lebih suka berdiam didalam lubang atau tempat yang tenang dan aliran air tidak terlalu deras. Ikan lele mempunyai kebiasaan mengaduk-aduk lumpur dasar untuk mencari binatang-binatang kecil (bentos) yang terletak di dasar perairan (Simanjutak, 1989 ).
2.5. Teknik Pembenihan
2.5.1. Pengelolaan Induk
                Induk ikan lele sangkuriang yang akan digunakan dalam kegiatan proses produksi harus tidak berasal dari satu keturunan dan memiliki karakteristik kualitatif dan kuantitatif yang baik berdasarkan pada morfologi, fekunditas, daya tetas telur, pertumbuhan dan sintasannya. Karakteristik tersebut dapat diperoleh ketika dilakukan kegiatan produksi induk dengan proses seleksi yang ketat.
                Induk betina yang siap dipijahkan adalah induk yang sudah matang gonad. Secara fisik, hal ini ditandai dengan perut yang membesar dan lembek. Secara praktis hal ini dapat diamati dengan cara meletakkan induk pada lantai yang rata dan dengan perabaan pada bagian perut. Sedangkan induk jantan ditandai dengan warna alat kelamin yang berwarna kemerahan.
                Jumlah induk jantan dan induk betina tergantung pada rencana produksi dan sistem pemijahan yang digunakan. Pada sistem pemijahan buatan diperlukan banyak jantan sedangkan pada pemijahan alami dan semi alami jumlah jantan dan betina dapat berimbang. Induk lele sangkuriang sebaiknya dipelihara secara terpisah dalam kolam tanah atau bak tembok dengan padat tebar 5 ekor/m2 dengan air mengalir ataupun diam. Pakan yang diberikan berupa pakan komersial dengan kandungan protein di atas 25% dengan jumlah pakan sebanyak 2 - 3% dari bobot biomassa dengan frekuensi pemberian 3 kali per hari. (http://sunarma.net/2008/09/pembenihan
-lele-sangkuriang-iii/)
2.5.2. Persiapan Bak Pemijahan
Kolam yang digunakan berupa bak/kolam terpal berukuran (3,5 x 2 ) m3. Sebagai tempat sarang, dibuat kotakan dari bahan yang sederhana dan mudah diperoleh seperti batako yang disusun atau batu-batu bata dan kayu yang tidak terpakai. Untuk tempat menempelnya telur, di dalam sarang disiapkan serat seperti ijuk atau sabut kelapa yang disimpan rata menutupi seluruh permukaan dasar sarang (Suyanto, 1999).
2.5.3. Seleksi Calon Induk
Menurut Simanjutak (1989), tanda-tanda jenis kelamin ikan lele adalah sebagai berikut:
1.     Ikan lele sangkuriang betina
a.     Alat kelaminnya berbentuk bulat telur, terletak di dekat lubang dubur
b.     Pada waktu musim pemijahan, bentuk perutnya menjadi lebih besar dari biasanya  karena berisi telur dan kalau diraba kenyal atau lembek. Bila perut dipijat dari kepala ke arah ekor akan keluar telur berwarna kuning kecoklatan
c.     Ukuran kepala lebih besar
d.     Kulitnya lebih halus dan licin
e.     Warna badannya kuning keputihan atau lebih cerah dari biasanya
f.      Pada sirip punggungnya tidak dijumpai titik berwarna hitam.
2.    Ikan lele sangkuriang jantan
a.     Alat kelaminnya berbentuk meruncing, terletak di dekat lubang dubur
b.     Pada waktu musim pemijahan , jika perut diurut dari kepala kearah ekor akan keluar cairan sperma berwarna keputihan atau seperti lendir
c.     Ukuran kepalanya lebih kecil
d.     Warna badannya lebih gelap
e.     Pada sirip punggungnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam.
Menurut Suyanto (1999), tanda-tanda lele yang sudah siap memijah adalah sebagai berikut:
1.     Induk Jantan
a.     Alat kelamin tampak jelas, meruncing
b.     Umur 8 bulan
c.     Perutnya tampak ramping, jika perut diurut akan keluar spermanya
d.     Tulang kepala agak mendatar dibanding dengan betinanya
e.     Jika warna dasar badannya hitam (gelap), warna itu menjadi lebih gelap lagi dari biasanya
2.     Induk Betina
a.     Alat kelaminnya bentuknya bulat dan kemerahan, lubangnya agak membesar
b.     Umur 8 bulan
c.     Tulang kepala agak cembung
d.     Gerakannya lamban
e.     Warna badannya lebih cerah dari biasanya.
2.5.4. Pemijahan
Lele sangkuriang mulai dapat dijadikan induk pada umur (8 – 9) bulan dengan berat minimal 500 gram.  Pada perkawinannya, induk betina akan melepaskan telur bersamaan dengan jantan melepaskan spermatozoa di dalam air untuk membuahi telur. Telur akan menetas dalam tempo 24 jam setelah memijah. Menurut pengalaman petani, di kolam ikan lele dapat memijah sepanjang tahun tanpa mengenal musim (Suyanto, 1999).
Metode pemijahan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan dua metode yaitu secara alami dan secara buatan.  Pemijahan secara alami yaitu pemijahan yang dilakukan di kolam pemijahan sebagaimana ikan lainnya, sedangkan pemijahan secara buatan yaitu dengan metode hipophysasi atau teknik rangsangan ovulasi dengan cara pemberian hormon gonadotropin yang akan mematangkan gonad.  Pembuahannya dilakukan dengan cara diurut (streeping) hal ini dapat mempercepat proses pemijahan (Effendi, 2004).  Keunggulan lele sangkuriang dibanding dengan lele dumbo dari kriteria reproduksinya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.  Karakter Reproduksi Lele Sangkuriang dan Lele Dumbo
Deskripsi
Lele Sangkuriang
Lele Dumbo
Kematangan
8 – 9
4 – 5
Fekunditas (butir/kilogram induk betina)
40.000 – 60.000
20.000 – 30.000
Diameter telur (mm)
1,1 – 1,4
1,1 – 1,4
Lamanya inkubasi telur pada suhu 23o-24oC (jam)
30 – 36
30 – 36
Lamanya kantung telur terserap pada 23o-24oC (hari)
4 - 5
4 – 5
Derajat penetasan telur (%)
> 90
> 80
Sifat larva
Tidak kanibal
Tidak kanibal
Kelangsungan hidup larva (%)
90 – 95
90 – 95
Pakan alami larva
Moina sp. Daphnia sp. Tubifex sp.
Moina sp. Daphnia sp. Tubifex sp.
Sumber: Effendi, 2004
Pemijahan buatan lele sangkuriang ini dibagi dalam beberapa tahap, yaitu pemeliharaan induk, induk dipelihara dalam bak berukuran (3 x 4) m2 dengan kepadatan 5 kg/m2 dan setiap hari induk diberi pakan berupa pellet sebanyak 4%  dari bobot induk; pemberokan, pemberokan bertujuan agar kotoaran dan lemak dalam tubuh induk terbuang dan selama pemberokan air harus tetap mengalir sedangkan lama pemberokan yaitu (1 – 2) hari;  penyuntikan, bila sudah diperoleh induk yang matang gonad, langkah selanjutnya adalah penyuntikan hormon, bila menggunakan hipopisa dosisnya 2 kg donor/kg induk, sementara bila menggunakan ovaprim dosisnya 0,3 ml/kg induk; streeping, induk jantan dan induk betina pada pemijahan ini harus dipisahkan.  Setelah (10 – 12) jam dari penyuntikan, induk betina siap di-streeping.  Namun, sebelumnya sperma harus sudah disiapkan dahulu dan jumlah jantan harus dua kali lebih banyak dari induk betina.  Telur yang keluar selanjutnya ditampung dalam wadah plastik dan pada saat yang bersamaan dimasukan larutan sperma sambil diaduk-aduk hingga rata dengan menggunakan bulu ayam.  Bila telur banyak mengandung darah, bilas campuran telur dan sperma tersebut dengan pemberian sodium klorida, penetasan telur dilakukan di dalam bak terpisah yang dilengkapi hapa (Effendi, 2004).
2.5.5. Penetasan Telur
Penetasan telur dilakukan di dalam bak fiber yang berukuran 2 x 1 x 0,3 m3  dan ketinggian air sekitar 30 – 40 cm.  Biasanya telur – telur akan menetas selama 1 – 2 hari setelah pemijahan pada suhu 25 - 30 0C (Susanto, 1989).
2.5.6. Pemeliharaan Larva
Selama perawatan larva lele sangkuriang ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan, diantaranya yaitu:
1.     Pemberian pakan,  selama masa pemeliharaan larva lele sangkuriang diberikan pakan alami dan pakan tambahan.  Pemberian pakan alami disesuaikan dengan ukuran benih.  Biasanya efektivitas pertumbuhan benih yang memakan plankton alami berkisar 2 – 3  minggu sejak ditebar ke kolam. Pakan tambahan diberikan dengan dosis 3 – 5% dari bobot populasi ikan dan diberikan dua sampai tiga kali sehari, pemberiannya dimulai sejak hari kedua setelah benih ditebar (Mujiman, 2000).
2.     Pengontrolan air, kegiatan ini meliputi pergantian air dengan pengaturan volume air dan penyiponan (Lukito, 2002).
3.     Penyeleksian, ada dua cara yang dapat dilakukan dalam penyeleksian benih yaitu penyeleksian manual dengan tangan dan penyeleksian dengan menggunakan ayakan seleksi (Prihartono dkk,  2000).
4.     Pengendalian hama penyakit, kegiatan ini meliputi pencegahan dan pengobatan (Effendi, 2004).
2.5.7. Pemanenan
Larva lele sangkuriang umur satu minggu telah siap untuk dipanen. Selama kegiatan pemanenan perlu adanya perlakuan tertentu karena lele sangkuriang merupakan jenis ikan yang tidak bersisik, tetapi tubuhnya berlendir.  Oleh karena tidak bersisik maka tubuhnya sangat mudah mengalami lecet dan luka.  Lecet atau luka pada lele sangkuriang dapat disebabkan oleh penggunaan peralatan yang sembarangan, cara panen yang kurang baik dan waktu panen yang kurang tepat (Prihartono dkk, 2000).  
Cara panen yang baik yaitu dilakukan pada pagi hari saat sinar matahari belum panas, kemudian langkah pertama yang perlu dilakukan yaitu menyurutkan air kolam secara perlahan, yaitu membuka pintu pengeluaran air.  Agar benih tidak terbawa arus air, pada pintu pengeluaran air tersebut dipasangkan saringan.  Sambil menunggu air kolam surut atau kering benih ditangkap sedikit demi sedikit dengan menggunakan seser, terlebih benih yang ada dekat pintu pengeluaran air.  Tujuannya agar saat kolam surut sudah banyak benih yang tertangkap sehingga tinggal sedikit yang harus ditangkap.  Benih hasil panen ditampung dalam ember besar dan dimasukan ke dalam bak penampungan benih.  Benih tidak boleh terlalu padat dan selama pemanenan berlangsung air harus tetap mengalir agar benih tidak stres (Prihartono dkk,  2000).

                                                                                               III.    PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1.  Waktu dan Tempat
Kegiatan Praktek Kerja Lapang I dilaksanakan selama 20 hari, terhitung mulai tanggal 3 September sampai dengan 22 September 2012, bertempat di Unit Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

                                                                                                IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.  Gambaran Umum BLUPPB Cilebar
4.1.1.  Letak Geografis
Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPBB) Cilebar, terletak di Jln. Cipucuk . Km 7 Kota Karawang, Kabupaten karawang, Provinsi Jawa Barat.
Lahan komplek BLUPPB  Cilebar memiliki tofografi yang relatif cukup bagus dengan luas lahan 300 Ha. BLUPPB Cilebar bersuhu rata-rata 26 - 35oC, sumber untuk mengairi kolam yang berada di BLUPPB Cilebar berasal dari Sungai Buntu dengan rata-rata debit 50-150 liter/detik.
4.1.2. Tugas Pokok dan Fungsi
                Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah Kabupaten Karawang tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Karawang Selatan Nomor 13 Tahun 2010. Adapun tugas pokok dan fungsi dimaksud adalah sebagai berikut:
1.     Tugas Pokok
Melaksanakan sebagian tugas Direktorat Jenderal Perikanan Bdidaya dalam melaksanakan pembinaan, pengembangan dan pengendalian sistem pembudidadayaan perikanan nasional yang dapat berperan sebagai “Aquaculture Techno Park” sekaligus menjadi inkubator bisnis bagi kegiatan pembinaan perikanan nasional
2.     Fungsi
a.     Perumusan kebijakan teknis di bidang Perikanan dan Kelautan Daerah
b.     Penyelenggaraan dan Pengawasan proses pemberian perizinan dan pelaksanaan pelayanan umum bidang perikanan dan kelautan
c.     Pembinaan terhadap unit pelayanan teknis lingkup Perikanan dan Kelautan Daerah
4.2. Hasil dan Pembahasan
                Dalam kegiatan pembenihan ikan lele sangkuriang terdapat beberapa proses yang benar-benar harus diperhatikan antara lain proses pengelolaan induk; persiapan kolam pemijahan; seleksi induk; pemijahan; persiapan wadah dan penetasan telur; pemeliharaan larva; penanggulangan hama dan penyakit; pengelolaan kualitas air; dan pendederan.
                Di bawah ini merupakan uraian dari materi yang diperoleh selama melaksanakan PKL di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Cilebar:
1.     Pengelolaan Induk
Pengelolaan induk merupakan salah satu faktor utama untuk keberhasilan dalam proses kegiatan teknik pembenihan lele sangkuriang, di dalam pengelolaan induk kita perlu memperhatikan tahapan-tahapan dalam pengelolaan induk diantaranya adalah; persiapan kolam, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air dan penanggulangan hama dan penyakit pada induk.
2.     Persiapan Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan yang digunakan di Balai Layanan Usaha Proudksi Perikanan Budidaya Cilebar adalah bak terpal dan dipasang penutup berupa jaring kawat agar tidak melompat keluar dan tidak ada benda ataupun hewan lain masuk ke dalam bak pemijahan tersebut. Bak pemijahan yang dipakai berukuran 3,5 m x 2 m  dengan ketinggian air sekitar 25 - 30 cm.
Sebelum dilakukan pemijahan terlebih dahulu kolam tersebut dibersihkan, lalu diisi air, selanjutnya dengan pemasangan kakaban yang berfungsi sebagai substrat menempelnya telur. Dan kakaban tersebut diberi pemberat berupa batu bata yang bertujuan agar kakaban tersebut tidak mengapung ke permukaan kolam. Kakaban yang digunakan berukuran 1,1 m x 0,3 m, dengan jumlah kakaban yang digunakan berjumlah 4 buah.
3.     Seleksi Induk
Faktor penting dalam pembenihan lele sangkuriang yaitu kualitas induk yang digunakan untuk dipijahkan, menurut informasi BLUPPB Cilebar  umur induk betina lele sangkuriang yang telah siap dipijahkan berumur ≥1 tahun, massa 0,75 – 1,5 kg dengan panjang standar 25 – 40 cm, dan tidak lebih dari 4 kali memijah, sedangkan induk jantan antara lain yaitu berumur berumur ≥1 tahun, massa 0,75 – 1,5 kg dengan panjang standar 30 – 40 cm.
Kondisi induk yang sehat dapat dilihat dari postur tubuh yang proporsional, tidak ada cacat dan luka pada tubuh ikan, serta gerakan ikan yang lincah. Induk diseleksi dengan cara melihat kondisi fisik secara langsung. Induk betina yang diseleksi adalah induk yang mempunyai ciri-ciri perut yang membesar ke arah anus dan lembek apabila diraba, alat kelamin atau urogenital berwarna merah tua.
Telur yang telahmatang gonad berwarna kuning transparan, bentuknya bundar dan ukurannya beragam, tidak mudah pecah apabila ditekan serta posisi sel telur berada di tengah, sedangkan untuk induk jantan yang terseleksi mempunyai cici-ciri alat kelamin yang menonjol dan berwarna merah.
4.     Pemijahan
Salah satu metode pemijahan yang digunakan di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Cilebar  yaitu pemijahan secara kawin alami. Pemijahan kawin alami menggunakan induk jantan dan betina dengan perbandingan 1 : 2 (1 induk jantan, 2 induk betina).
5.     Persiapan Wadah dan Penetasan Telur
Wadah yang digunakan dalam penetasan telur yang berada di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Cilebar berupa bak fiber berukuran 6 m x 4 m x 2 m dengan ketinggian air 30 – 35 cm.
Setelah wadah penetasan telur siap, selanjutnya kakaban dimasukkan ke dalam bak dan diberi pemberat berupa batu bata.
Telur-telur tersebut menetas menjadi larva setelah 20 – 24 jam dari proses kawin pada suhu 22 – 25 oC. Jika terlihat adanya telur yang mulai menetas, hal ini ditandai dengan adanya larva lele sangkuriang yang mulai terlihat berkumpul di dasar bak. Telur tersebut menetas tidak berlangsung secara bersamaan, akan tetapi berlangsung secara bertahap.
6.     Pemeliharaan Larva
Selama dalam pemeliharaan di dalam bak fiber, memasukkan hari ke-4 dan seterusnya kuning telur dalam tubuh larva telah habus dan selanjutnya diberi pakan berupa cacing sutera (tubifex sp.). Sebelum diberikan, cacing sutera tersebut dicincang terlebih dahulu. Hal itu dilakukan karena ukuran bukaan mulut benih ikan yang masih kecil. Pemberian cacing sutra cincang diberikan hingga larva berumur 10 hari.
Jumlah pakan yang diberikan yaitu 5% dari biomassa, dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak tiga kali, yaitu pada pagi, siang, sore hari. Setelah ikan berumur lebih dari 10 hari selanjutnya larva ikan diberi pakan cacing sutera utuh.
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup larvakelangsungan hidup larva, maka lingkungan yang baik harus tetap terjaga. Pengelolaan kualitas air selama pemeliharaan larva dilakukan dengan melakukan penyifonan bak pemeliharaan larva setiap pagi hari sebelum pemberian pakan dan penggantian air sebanyak 30%.
Untuk menjaga kualitas air yang berada di dalam bak pemeliharaan, selanjutnya dilakukan penyifonan. Penyifonan dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa pakan dan kotoran yang terdapat di dasar bak pemeliharaan larva, air dalam bak pemeliharaan diberikan aerasi secara terus menerus.
7.     Penanggulangan Hama dan Penyakit
Meskipun kondisi ikan selama pemeliharaan dalam kondisi yang baik, selama dalam pemeliharaan larva ikan lele sangkuriang tetap diberikan perawatan sebagai upaya untuk pencegahan. Langkah yang dilakukan yaitu dengan memberikan garam sebanyak 0,6 gram/liter air.
8.     Pendederan
Untuk memindahkan larva ikan ke kolam pendederan dengana cara menyurutkan air menggunakan selang sifon yang sudah diberi saringan, tujuannya agar ikan tidak tersedot keluar, kemudian ikan diserok dengan menggunakan seser halus untuk menampung benih dan langsung ditebar ke kolam pendederan.
Pendederan dilakukan pada sore hari setelah benih ikan berumur 10 hari. Setelah benih ikan dideder, pakannya adalah pelet tepung merk Central Protein ukuran 0,425 x 0,71 mm dengan jumlah pakan yang diberikan 8% dari biomassa dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari, yaitu pada pagi, sore dan malam.
9.     Pemanenan dan Pengepakan
Menurut informasi yang diperoleh dari Balai Layanan Usaha Produksi Perkanan Budidaya Cilebar  pemanenan larva dilakukan pada pagi hari dan sore hari, pemanenan larva dilakukan setelah larva menjadi benih dan yang telah berumur 21 hari, ukuran benih yang dipanen bervariatif mulai dari 1 – 2 cm, dan ciri-ciri benih yang sudah siap dipanen warna tubuhnya tampak kehitaman, hal ini menandakan bahwa larva siap dipanen, adapun cara pemanenannya yaitu dengan menyurutkan air dan memasang jaring halus pada outlet agar tidak ada benih ikan yang terbuang keluar. Setelah air surut maka benih ikan akan berada di kemalir dan dapat lansung diserok menggunakan seser halus untuk langsung dijual atau dipindahkan ke kolam pendederan ke-2 yang sudah disiapkan sebelumnya.
Pada saat pemanenan benih yang dihasilkan dari sepasang induk lele sangkuriang menghasilkan benih sebanyak 40.000 ekor. Selanjutnya apabila benih akan dikirim, maka langkah selanjutnya adalah pengepakan, adapun tahapan yang pertama adalah menagkap benih dengan menggunakan skopnett, selanjutnya memasukkan benih kedalam baskom penampungan untuk dihitung dan dipacking ke dalam kantong plastik berukuran 40 cm x 60 cm dua rangkap dan telah diisi air sebanyak 4 – 6 liter, kemudian diberi oksigen sebanyak 2/3 dan diikat dengan menggunakan karet gelang dengan kepadatan benih per kantong 1000 ekor.

                                                                                                 V.    KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
                Kesimpulan yang dapat diambil dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapang I yang dilakukan antara lain:
1.     Metode pemijahan yang dilakukan di BLUPPB Cilebar adalah dengan pemijahan kawin alami. Pihak BLUPPB Cilebar berpendapat bahwa metode pemijahan kawin alami merupakan metode pemijahan yang lebih efisien dilakukan, karena biaya lebih ekonomis, aplikasi lebih mudah dan kualitas benih yang dihasilkanpun tidak terlalu mengecewakan.
2.     Permasalahan yang kerap muncul dalam kegiatan pembenihan lele sangkuriang di Balai Benih Ikan Batu Nadua adalah suhu yang terlalu tinggi, yaitu 25 – 27 oC. Sehingga perlu pengawasan yang lebih tinggi terhadap suhu air.
3.     Faktor penting dalam kelangsungan budidaya adalah tersedianya benih yang cukup dari segi kualitas dan kuantitasnya. Sedangkan tersedianya benih yang memadai dipengaruhi oleh kualitas induk, keadaan lingkungan yang cocok sangat dipengaruhi oleh suhu, pakan yang cukup serta pengelolaan yang baik dan terencana.
5.2. Saran
                Adapun saran yang ingin penulis sampaikan kepada pihak BLUPPB Cilebar adalah:
1.     Pihak Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Cilebar diharapkan mempertimbangkan proses pemijahan buatan, yaitu dengan cara suntik ovaprim atau hypofisa. Karena dengan cara ini akan menghasilkan angka produksi yang tinggi meskipun biaya yang dibutuhkan memang jauh lebih mahal.
2.     Pihak Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budida Cilebar juga diharapkan dapat melengkapi kekurangan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang proses produksi seperti penggunaan teknologi pembiusan/anasesi ketika diangkat dari kolam, sehingga ikan tidak akan mengalami luka-luka.
3.     Diharapkan juga pihak Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Cilebar tidak melakukan pembenihan ikan terlalu rutin, hal itu sangat dianjurkan untuk menghindari menurunnya kualitas ikan.
4.     Pihak Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Cilebar diharapkan dapat lebih meningkatkan proses pemeliharaan serta pemberantasan hama maupun penyakit untuk dapat memperkecil tingkat kematian benih.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 2005.   Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi

Anonimus. 2007. Budidaya Lele Sangkuriang (Clarias sp). http://www.dkp.go.id/ content.php?c=2558

Effendi, I.  2004.  Pengantar Akuakultur .  Penebar Swadaya.  Jakarta

Lukito, AM.  2002.  Lele Ikan Berkumis Paling Populer.  Agromedia.  Jakarta

Mujiman, A.  2000.  Pakan Ikan.  Penebar Swadaya.  Jakarta

Prihartono ER, Rasidik J, Arie U.  2000.  Mengatasi Permasalahan Budidaya Lele Dumbo.  Penebar Swadaya.  Jakarta.

Simanjutak, RH. 1989. Pembudidayaan Ikan Lele Sangkuriang  dan Dumbo. Bharatara. Jakarta

Sunarma. Pembenihan Lele Sangkuriang http://sunarma.net/2008/09/ pembenihan-lele-sangkuriang-iii/. Diakses tanggal 30 Oktober 2010

Susanto, H.1989. Budidaya Ikan Lele. Kanisius. Yogyakarta

Suyanto, R. 1999. Budidaya Ikan Lele. Penebar. Swadaya. Jakarta

Wijaya, B. 2011. Panduan Praktis dan Lengkap Budidaya Lele Sangkuriang. Galmas Publisher. Klaten